Jabaran.id – Persoalan tumpukan sampah menggunung di Tempat Pembuangan Akhir Sampah atau TPAS Galuga, Cibungbulang, Kabupaten Bogor, mulai menemukan titik terang.
Pemerintah pusat memulai pembangunan fasilitas pengolahan sampah modern yang akan mengubah sampah menjadi sumber energi.
Proyek tersebut ditandai dengan peletakan batu pertama pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) dan Pengolahan Sampah menjadi Energi Pirolisis (PSEP) di kawasan TPAS Galuga.
Groundbreaking tersebut dihadiri jajaran pejabat tinggi negara, di antaranya Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Lingkungan Hidup Moh Jumhur Hidayat, Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya, Kepala Bappisus Aries Marsudiyanto, CEO PT Danantara Investment Management Pandu Patria, Bupati Bogor Rudy Susmanto, dan Wali Kota Bogor Dedie Rachim.
Menko Pangan Zulkifli Hasan menyebutkan, Galuga menjadi lokasi keempat groundbreaking proyek serupa setelah sebelumnya dilakukan di Bali, Gollangka, dan Kota Bekasi.
“Groundbreaking pertama di Bali, kedua Gollangka, ketiga Kota Bekasi, keempat di sini Bogor Raya, Kota dan Kabupaten. Ditargetkan selesai pada 2027, dan akan berlanjut. Diperkirakan masih ada enam titik lagi, hingga tahun depan total ada 24 lokasi yang akan groundbreaking,” ucap Zulhas.
Zulhas memaparkan, ribuan ton sampah yang selama ini menumpuk di Galuga akan diolah menjadi dua bentuk energi, yakni listrik dan bahan bakar solar.
Menurutnya, proyek ini fokus menyelesaikan kondisi darurat sampah di sejumlah TPAS besar yang sudah menerapkan sistem open dumping dengan ketinggian sampah mencapai 50-60 meter.
“Ini untuk menyelesaikan sampah open dumping yang sudah kritis. Seperti di sini yang kemarin sempat terbakar, juga di Kramat Jati dan Bantar Gebang. Itu yang akan kita selesaikan terlebih dahulu,” tuturnya.
Ia menambahkan, pemerintah juga menargetkan penyelesaian persoalan sampah hingga level terkecil sesuai arahan Presiden, yang ditargetkan tuntas hingga 2029.
Mulai dari sampah dengan volume 100-200 ton di tingkat kabupaten, hingga sampah rumah tangga, sekolah, mal, dan pasar.
Untuk pelaksanaannya, proyek PSEL di Galuga akan digarap oleh PT Weiming Nusantara Bogor New Energy (Weiming Group), sementara proyek pengolahan pirolisis (PSEP) akan dikerjakan oleh TNI Angkatan Darat.
“Di sini kapasitasnya 1.500 ton. Kalau total sampahnya 3.000 sampai 4.000 ton, berarti separuh persoalan bisa selesai. Sampah yang baru akan diolah jadi listrik, sementara sampah lama yang sudah menggunung akan diolah menjadi pirolisis untuk bahan bakar solar,” jelasnya.
Dengan sistem dua jalur ini, sampah baru yang masuk akan langsung diproses menjadi energi listrik, sedangkan sampah lama bertahun-tahun tertimbun di Galuga akan didaur ulang melalui teknologi pirolisis menjadi solar.

