HomeJabarPujawali Agung ke-XXVIII Pura Tri Buana Agung: Merajut Harmoni Umat dan Alam

Pujawali Agung ke-XXVIII Pura Tri Buana Agung: Merajut Harmoni Umat dan Alam

Jabaran.id – Suasana khidmat dan penuh kekeluargaan menyelimuti Pura Tri Buana Agung jelang pelaksanaan Pujawali Agung ke-XXVIII. Semangat persatuan dan kerukunan nyata terlihat dalam rangkaian acara yang tidak hanya berfokus pada ibadah umat Hindu saja, tetapi juga aksi sosial dan pelestarian budaya. Sebagai puncak persiapan, digelarlah kegiatan Santi Puja, sebuah ritual permohonan agar seluruh rangkaian Pujawali dapat berjalan lancar dan penuh berkah.

Ketua Panitia Pujawali Agung ke-XXVIII, Komang Sudharma, menjelaskan kegiatan Santikuja dihadiri Pinandite dari pura yang ada di sekitar Jakarta, Bogor, Bekasi, dan Depok. Diantaranya perwakilan dari Pura Cibinong, Cibubur, hingga Atang Sanjaya Bogor. Dalam kesempatan itu, para pinandite berkumpul dan berdoa bersama.

Pujawali Agung di Pura Tri Buana Agung 1

“Pinandite berkumpul berdoa bersama dalam kegiatan Shanti Puja mendoakan agar seluruh kegiatan Pujawali bisa berjalan dengan baik dan penuh berkah,” tambah Komang.

- Advertisement -

Puncak acara, yaitu Pujawali, akan digelar pada hari Sabtu, 26 Oktober 2025 dengan susunan kegiatan yang sarat makna. Ibadah dimulai dengan ritual Mecaru, sebuah prosesi untuk menetralkan energi negatif.

“Mecarunya itu tingkatannya pancasata, yaitu bermacam jenis ayam berdasarkan empat penjuru mata angin dan satunya di tengah-tengah mata angin,” jelas Komang Sudharma.

Ritual penyucian ini menjadi fondasi sebelum memasuki inti acara, yaitu persembahyangan bersama umat. Rangkaian ibadah kemudian akan ditutup dengan hiburan yang tidak kalah budayanya, yaitu pertunjukan Sendratari Calonarang.

Pujawali Agung di Pura Tri Buana Agung 3

Namun, yang membuat acara ini lebih dari sekadar ritual keagamaan adalah implementasi nyata dari konsep filosofi Hindu, Tri Hita Karana. Konsep yang berarti ‘tiga penyebab kesejahteraan’ ini diwujudkan dalam tiga bentuk harmoni. Sebelum puncak acara, telah digelar bakti sosial yang mencerminkan harmoni antarsesama manusia (Pawongan).

“Baksos ada pengecekan kesehatan gratis tensi, asam urat, kadar tulang, obat gratis, dihadiri enam agama,” papar Komang.

Kehadiran perwakilan dari enam agama ini menegaskan bahwa kegiatan ini juga menjadi simbol kerukunan umat beragama.

Secara keseluruhan, seluruh rangkaian Pujawali adalah perwujudan harmoni antara manusia dengan Tuhan (Parahyangan) melalui berbagai persembahyangan. Sementara itu, ritual Mecaru yang melibatkan unsur alam merupakan bentuk harmoni antara manusia dengan alam (Palemahan). Melalui serangkaian kegiatan yang lengkap ini, Pujawali Agung ke-XXVIII di Pura Tri Buana Agung tidak hanya menjadi sebuah perayaan keagamaan, tetapi juga menjadi contoh nyata bagaimana nilai-nilai luhur filosofi dapat dihidupi untuk menciptakan kesejahteraan yang holistik bagi masyarakat di tengah hingar-bingar kehidupan metropolitan. (*)

TERBARU

spot_img

POPULER

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here