Jabaran.id – Suasana haru menyelimuti acara perpisahan di SMPN 20 Depok. Tuti Alawiyah, kepala sekolah yang telah memimpin institusi tersebut selama tiga tahun terakhir, resmi pensiun dini. Momen perpisahan itu menjadi ajakannya untuk menyampaikan permintaan maaf kepada seluruh keluarga besar sekolah.
Mengawali sambutan perpisahannya, Tuti Alawiyah secara blak-blakan mengakui bahwa momen pensiun dini ini adalah waktu yang tepat untuk introspeksi. Ia menyampaikan permohonan maaf atas segala sikap dan tindakannya selama berkarier di dunia pendidikan.

“Tentu ini menjadi momen untuk permintaan maaf, atas sikap dan perbuatan selama di dunia pendidikan. Itu semuanya bertujuan untuk menjadi yang lebih baik lagi,” ujar Tuti Alawiyah saat acara perpisahan di SMPN 20 Depok.
Lebih lanjut, Tuti menekankan bahwa kerjasama yang telah terjalin selama masa kepemimpinannya merupakan hal yang sangat berharga. Ia berharap kolaborasi dengan para guru, staf, dan orang tua siswa dapat menjadi keberkahan untuk semua pihak.
“Kerjasama yang terjalin selama ini tentunya bisa menjadi suatu keberkahan untuk semuanya,” tambahnya.
Tuti Alawiyah mengungkapkan bahwa masa pengabdiannya sebagai kepala sekolah di SMPN 20 Depok berlangsung selama tiga tahun. Sebelum dipercaya memimpin sekolah tersebut, ia telah menjabat sebagai kepala SMPN 32 Depok juga dalam kurun waktu tiga tahun. Perjalanan kariernya di dunia pendidikan dimulai sebagai guru di SMAN 93 Jakarta, kemudian mengajar di SMAN 6 Dago, SMPN 3 Rancaengkek, SMPN 11, dan SMPN 22, sebelum akhirnya dipercaya memimpin SMPN 32 Depok kemudian dimutasi ke SMPN 20 Depok.
Sementara itu, Wahyu Hidayat yang kini menjabat sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SMPN 20 Depok menjelaskan bahwa posisinya saat ini merupakan tugas tambahan di tengah tanggung jawabnya sebagai kepala sekolah di SMPN 18 Depok. Ia menyebut dua hal utama yang menjadi fondasi dalam menjaga pertahanan guru di lingkungan sekolah.
“Ini adalah sebuah tugas, dan semoga bisa berbagi adil dengan SMPN 18 Depok yang merupakan posisi definitif saya sebagai kepala sekolah. Pertahanan guru itu ada dua, yakni tentang gurunya dan tempat ibadahnya,” kata Wahyu Hidayat saat ditemui dalam acara perpisahan tersebut.

Wahyu menambahkan bahwa ke depan, pihaknya akan terus bersinergi dengan seluruh pemangku kepentingan. Ia menegaskan komitmennya untuk memajukan dunia pendidikan, khususnya di SMPN 20 Depok, dengan menggandeng guru, karyawan, serta orang tua siswa. Menurutnya, kolaborasi yang kuat menjadi kunci utama dalam meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah tersebut.
Guru bahasa Indonesia SMPN 20 Depok, Syukron, turut memberikan kesannya atas kepemimpinan Tuti Alawiyah. Ia mengakui bahwa selama tiga tahun terakhir, banyak kemajuan yang telah diraih sekolah di bawah arahan Tuti. Syukron pun mendoakan yang terbaik untuk mantan kepala sekolahnya tersebut.
“Semoga ini menjadi jalan yang terbaik, baik untuk Tuti Alawiyah, SMPN 20 Depok, dan juga dunia pendidikan pada umumnya. Banyak kemajuan yang sudah dilakukan selama 3 tahun di SMPN 20 Depok,” ungkap Syukron.
Syukron berharap Tuti Alawiyah dapat menjalani masa purnabaktinya dengan nyaman dan sehat. Ia juga berpesan agar sang mantan kepala sekolah tetap menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain yang membutuhkan bantuan, meskipun tidak lagi aktif memegang jabatan struktural di sekolah.
Sementara itu, Diah Setianing yang merupakan perwakilan komite SMPN 20 Depok menyampaikan apresiasinya atas kerjasama yang telah terjalin antara komite sekolah dengan pihak kepala sekolah. Diah mengaku bahwa pengalaman bekerja sama dengan Tuti Alawiyah meninggalkan kesan yang mendalam.
“Dengan kerjasama yang sudah terjalin selama ini, tentu itu sangat berkesan. Semoga masa purnabakti ini membawa kebaikan untuk semuanya,” tutur Diah Setianing dengan nada haru. (*)
