Jabaran.id, – Tren pembelian perhiasan emas di Indonesia sepanjang 2026 menunjukkan peningkatan signifikan, didorong oleh kombinasi faktor ekonomi dan perubahan gaya hidup masyarakat. Di tengah harga emas yang cenderung tinggi dan fluktuatif, minat masyarakat justru tetap kuat, bahkan mengalami peningkatan terutama pada momentum tertentu seperti musim pernikahan.
Berdasarkan pantauan pasar, harga emas perhiasan saat ini bergerak dinamis. Untuk kadar 9 karat, harga berada di kisaran Rp1,3 jutaan per gram, sementara kadar 18 karat menembus Rp2,4 jutaan per gram. Adapun emas dengan kadar tinggi seperti 24 karat berada di kisaran Rp2,6 juta hingga Rp2,7 juta per gram. Kondisi ini dipengaruhi oleh pergerakan harga emas global yang masih berada dalam tren naik sepanjang tahun ini.
Meski harga relatif tinggi, permintaan perhiasan emas tetap stabil bahkan meningkat. Hal ini tidak lepas dari persepsi masyarakat yang masih menempatkan emas sebagai aset aman atau safe haven, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global. Selain itu, emas dinilai memiliki nilai lindung terhadap inflasi, sehingga tetap diminati sebagai instrumen investasi jangka panjang.
Namun demikian, tren pembelian perhiasan emas saat ini tidak hanya didorong oleh kebutuhan investasi semata. Perubahan gaya hidup turut memainkan peran penting. Perhiasan emas kini semakin populer sebagai bagian dari fashion, seiring hadirnya desain-desain modern yang lebih ringan, minimalis, dan fleksibel digunakan dalam berbagai aktivitas.
Fenomena ini terlihat jelas di kalangan generasi muda yang mulai aktif membeli perhiasan emas, tidak hanya untuk disimpan, tetapi juga untuk menunjang penampilan sehari-hari. Model seperti cincin tipis, gelang sederhana, serta kalung berdesain elegan menjadi pilihan favorit karena dinilai lebih praktis sekaligus tetap memiliki nilai investasi.
Di sisi lain, fluktuasi harga yang terjadi membuat konsumen semakin cermat dalam menentukan waktu pembelian. Banyak masyarakat memanfaatkan momen ketika harga sedikit terkoreksi untuk melakukan pembelian, baik dalam jumlah kecil maupun bertahap.
Tren ini mencerminkan adanya pergeseran pola konsumsi, di mana masyarakat tidak lagi memisahkan antara kebutuhan investasi dan gaya hidup. Perhiasan emas kini berada di persimpangan keduanya sebagai simbol status sekaligus aset bernilai.
Ke depan, harga emas diperkirakan masih berpotensi mengalami kenaikan, seiring dengan kondisi ekonomi global dan pergerakan nilai tukar rupiah. Meski demikian, permintaan diprediksi tetap kuat, didukung oleh tingginya minat masyarakat serta inovasi dari pelaku industri perhiasan yang terus menghadirkan desain menarik dan terjangkau.
Dengan kondisi tersebut, perhiasan emas diperkirakan akan terus menjadi primadona di pasar domestik, tidak hanya sebagai instrumen investasi yang aman, tetapi juga sebagai bagian dari tren gaya hidup modern masyarakat Indonesia. (*)
