Jabaran.id – SMPN 34 Depok menggelar Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dengan mengusung tema pentingnya anti-bullying dan kepedulian terhadap lingkungan. Kegiatan yang berlangsung selama lima hari tersebut diikuti oleh seluruh siswa kelas VII, dengan hari keempat khusus membahas pencegahan perundungan, Kamis (17/7/2025).
Kepala SMPN 34 Depok, Siti Rohaya, menegaskan bahwa materi anti-bullying sengaja disisipkan dalam MPLS untuk memberikan pemahaman sejak dini tentang bahaya perundungan, baik secara verbal, fisik, maupun di dunia maya.

“Anti-bullying menjadi bagian penting dalam MPLS kali ini. Kami ingin siswa memahami apa saja yang termasuk kategori bullying dan dampaknya, baik bagi korban maupun pelaku. Dengan demikian, mereka dapat menghindari perilaku tersebut,” ujar Siti Rohaya.
Tak hanya mendapatkan penjelasan, para siswa juga diajak untuk menuangkan pemahaman mereka melalui pembuatan poster bertema anti-bullying. Hasil karya mereka kemudian dipamerkan sebagai bentuk kampanye visual terhadap pencegahan perundungan di lingkungan sekolah.
Selain itu, kegiatan MPLS juga mengajak siswa untuk berkreasi dengan memanfaatkan barang bekas. Hal ini sejalan dengan visi SMPN 34 Depok sebagai sekolah yang ramah lingkungan.
“Siswa tidak hanya belajar tentang anti-bullying, tetapi juga diajarkan untuk peduli terhadap lingkungan dengan membuat produk daur ulang,” tambah Siti Rohaya.
MPLS di SMPN 34 Depok tidak hanya fokus pada dua tema tersebut. Beberapa materi lain turut disampaikan, seperti lomba kelas terbersih dan wawasan wiyata mandala, yang bertujuan membangun karakter disiplin dan cinta kebersihan sejak dini.
Dengan rangkaian kegiatan ini, SMPN 34 Depok berharap dapat menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan berwawasan lingkungan bagi seluruh siswa. Upaya ini juga sejalan dengan program pemerintah dalam menekan angka perundungan di sekolah sekaligus mendukung gerakan sustainable living di kalangan generasi muda.
Kasus perundungan di lingkungan pendidikan masih menjadi perhatian serius di Indonesia. Data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menunjukkan bahwa setidaknya 30% siswa pernah mengalami bullying dalam berbagai bentuk. Oleh karena itu, inisiatif seperti yang dilakukan SMPN 34 Depok dinilai sebagai langkah preventif yang efektif.
“Siswa perlu paham bahwa bullying memiliki dampak jangka panjang, baik secara psikologis maupun akademis. Sekolah memegang peran kunci dalam menanamkan nilai-nilai empati dan toleransi,” jelasnya.
Dengan pendekatan kreatif melalui poster dan daur ulang, SMPN 34 Depok berhasil mengemas pesan serius menjadi kegiatan yang interaktif dan mudah dicerna oleh siswa. Harapannya, upaya ini tidak hanya berhenti di MPLS, tetapi berlanjut dalam keseharian kegiatan belajar-mengajar. (*)
