Jabaran.id – Program pesantren kilat Ramadan yang digagas Kapolres Metro Depok, Kombes Abdul Waras bersama komunitas masyarakat, mendapat apresiasi, salah satunya datang dari Pemerhati perempuan dan anak asal Depok, Novi Anggriani yang menilai sebagai cara humanis cegah tawuran pelajar.
Diketahui, sebanyak sepuluh anak yang terindikasi hendak terlibat tawuran tidak langsung dikenakan sanksi hukum, melainkan diarahkan mengikuti pembinaan spiritual di Masjid Al-Ikhlas Polres Metro Depok selama dua hari, bertepatan dengan momentum Ramadan.
Menurut Novi pendekatan ini menunjukkan perubahan paradigma dalam penanganan anak yang berhadapan dengan hukum. Menurutnya, remaja yang terlibat tawuran umumnya masih berada dalam fase pencarian jati diri dan rentan terhadap pengaruh lingkungan sekitar.
“Pendekatan berbasis spiritual, konseling psikologis, serta pelibatan orang tua adalah langkah yang lebih humanis dan edukatif,” ujar Novi Minggu, 22 Februari 2026.
Program pesantren kilat tersebut tidak hanya diisi dengan kegiatan ibadah seperti salat berjamaah, tadarus Al-Qur’an, dan tausiyah dari unsur Nahdlatul Ulama serta Muhammadiyah. Para peserta juga mendapatkan konseling psikologis dan pembinaan kedisiplinan.
“Kolaborasi antara kepolisian dan elemen masyarakat ini menjadi bukti bahwa penanganan kenakalan remaja membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, bukan sekadar penegakan hukum semata,” tutur Novi.
Meski demikian, Novi yang kini berkarir di Boston, Amerika Serikat ini mengingatkan agar program serupa tidak berhenti pada kegiatan seremonial dua hari saja. Ia menekankan pentingnya pendampingan berkelanjutan, monitoring di sekolah dan lingkungan rumah, serta penguatan peran keluarga.
“Orang tua harus dilibatkan secara aktif agar nilai-nilai yang ditanamkan selama pesantren kilat tidak luntur setelah anak kembali ke lingkungan pergaulannya,” tegasnya.
Novi Anggriani juga mendorong Pemerintah Kota Depok memperbanyak ruang-ruang kreatif dan kegiatan positif bagi remaja. Dengan demikian, para pelajar memiliki alternatif penyaluran energi selain tawuran.
“Pencegahan harus dilakukan dari hulu melalui penguatan pendidikan karakter, literasi digital, hingga pengawasan terhadap peredaran konten kekerasan di media sosial,” ucap Novi Anggriani.
