HomePendidikanKokurikuler SMPN 32 Depok : Bukan Sekadar Menu MBG, Rancang Replika hingga...

Kokurikuler SMPN 32 Depok : Bukan Sekadar Menu MBG, Rancang Replika hingga Jadi News Anchor

Jabaran.id – SMPN 32 Depok menggelar kegiatan kokurikuler yang dikemas secara tematik dan terintegrasi dengan berbagai mata pelajaran, bertepatan dengan pelaksanaan pesantren modern atau yang akrab disebut smartren di sekolah tersebut.

Kepala SMPN 32 Depok, Eva Juariah menjelaskan bahwa kegiatan kokurikuler ini dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang kontekstual dan menyenangkan bagi siswa. Pihak sekolah sengaja memilih tema-tema yang relevan dengan kehidupan sehari-hari, sekaligus mengaitkannya dengan program-program nasional yang sedang digalakkan. Untuk kelas VII misalnya, fokusnya adalah pada pengenalan pola hidup sehat yang dikaitkan dengan mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Pendidikan Agama Islam (PAI), dan Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK).

Kokurikuler SMPN 32 Depok 2

“Untuk kelas VII, temanya adalah sehat bugar yang lintas mata pelajaran IPA, PAI, dan PJOK. Di dalamnya, mereka tidak hanya menerima materi, tetapi juga melakukan diskusi dan ice breaking agar suasana belajar lebih cair,” ujar Eva.

- Advertisement -

Ia menambahkan bahwa metode ini diharapkan mampu membuat siswa lebih mudah memahami konsep kesehatan tidak hanya dari sisi fisik, tetapi juga dari perspektif agama dan ilmu pengetahuan.

Sementara itu, untuk siswa kelas VIII, tema yang diangkat lebih spesifik dengan menyentuh isu kesehatan di Indonesia. Eva menjelaskan bahwa siswa kelas delapan mendapat tugas untuk mendalami topik Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang tengah menjadi program unggulan pemerintah. Tugas ini tidak hanya sekadar berdiskusi, tetapi siswa ditantang untuk berkarya secara nyata.

“Mereka dari mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Informatika membahas tentang MBG. Tugasnya adalah membuat replika menu yang disajikan dalam program Makanan Bergizi Gratis. Jadi, mereka harus mencari informasi, mendesain, lalu mempresentasikan hasil karyanya,” jelas Eva.

Ia berharap dengan cara ini, siswa tidak hanya tahu tentang program MBG dari berita, tetapi juga memahami kandungan gizi dan pentingnya makanan sehat melalui proses kreasi langsung.

Tak kalah menarik, kegiatan kokurikuler untuk kelas IX justru mengajak siswa untuk melihat isu kesehatan dari perspektif sejarah dan budaya populer. Dengan tema ‘Generasi Sehat dan Bugar dari Masa ke Masa’, siswa kelas sembilan yang melibatkan mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), Bahasa Inggris, dan Seni Budaya diminta untuk menelusuri program-program kesehatan apa saja yang pernah digalakkan pemerintah dari waktu ke waktu. Hasil penelitian mereka kemudian disajikan dalam format yang unik.

“Anak-anak kelas IX ini nantinya akan membacakan berita tentang program-program tersebut dengan bahasa Inggris, layaknya seorang pembawa acara berita atau news anchor. Jadi mereka belajar sejarah, belajar bahasa asing, dan juga belajar tampil percaya diri di depan umum,” ungkap Eva.

Untuk mencairkan suasana dan membangun kebersamaan, seluruh siswa juga diajak untuk bernyanyi bersama. Lagu-lagu yang dinyanyikan merupakan karya dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) yang berjudul “Rukun Sama Teman” dan “Hari Baru”. Aktivitas ini menjadi jeda penyemangat di sela-sela kegiatan diskusi dan pembuatan proyek yang cukup menguras pikiran.

Eva merinci bahwa rangkaian kegiatan kokurikuler ini berjalan dalam beberapa tahapan sistematis agar pembelajaran benar-benar bermakna. Ia menjelaskan bahwa guru di sini hanya berperan sebagai fasilitator yang mengarahkan, sementara siswa menjadi subjek aktif dalam proses belajar.

“Pertama, ada tahap pemberian materi di mana guru hanya sebagai fasilitator. Kemudian masuk ke tahap eksplorasi, di mana siswa menjelaskan tentang penelitiannya. Setelah itu, ada asesmen dengan mengerjakan soal-soal yang sudah dipelajari sebelumnya. Lalu yang terakhir, ada refleksi tentang bagaimana proses semua pembelajaran, seperti halnya evaluasi,” papar Eva panjang lebar.

Eva juga menyinggung tentang aspek penilaian yang diterapkan. Pihaknya ingin memastikan bahwa kegiatan kokurikuler ini tidak berjalan sendiri, tetapi selaras dengan tujuan besar pendidikan di SMPN 32 Depok, terutama dalam membentuk profil lulusan.

“Untuk kokurikuler ini, dimensi profil lulusan yang kami pilih adalah kesehatan dan penalaran kritis. Namun, untuk kelas VII, secara spesifik ada penambahan dimensi tentang beriman dan kekeluargaan, karena kami ingin menanamkan nilai-nilai spiritual dan kebersamaan sejak dini,” terang Eva.

Lebih lanjut, Eva menjelaskan tentang pembagian porsi penilaian dalam rapor siswa agar orang tua dapat memahami perbedaan setiap capaian anaknya. Sistem penilaian yang transparan ini diharapkan dapat memberikan gambaran utuh tentang perkembangan siswa, baik dari sisi akademis maupun pengembangan karakter.

“Di rapor itu, ada tiga penilaian. Pertama, intrakurikuler yang berkaitan langsung dengan mata pelajaran. Kedua, kokurikuler, yaitu tentang aplikasi dari apa yang dipelajari di intrakurikuler, seperti proyek-proyek yang mereka buat sekarang ini. Ketiga, ekstrakurikuler, yang mencatat kegiatan non-akademiknya,” jelas Eva. (*)

TERBARU

spot_img

POPULER

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here