Jabaran.id – SMPN 22 Depok memulai kegiatan Pesantren Ramadan 1447 Hijriyah, sebuah program tahunan yang kali ini diikuti oleh sekitar 1.000 siswa muslim dari kelas VII, VIII, dan IX. Kegiatan yang akan berlangsung selama lima hari ke depan, hingga 27 Maret mendatang, ini mengusung tema ‘Berkarakter dalam Iman, Berakhlak Mulia, Menjadi Generasi Qurani’.
Ketua Panitia Pesantren Ramadan, Ruhani Yuli Subhi, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan agenda rutin yang selalu dinantikan di bulan suci. Pihaknya sengaja mendesain kegiatan dengan format dua sesi, menyerupai jadwal Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) reguler, agar materi keagamaan dapat terserap maksimal oleh para siswa.

“Pembagiannya seperti KBM biasa. Sesi pertama dimulai pukul 06.30 hingga 10.20. Di sesi ini, anak-anak kami ajak untuk melaksanakan Salat Duha berjamaah, kemudian tadarus Al-Qur’an, dan dilanjutkan dengan pemaparan materi pendidikan agama Islam,” ujar Ruhani didampingi Sekretaris Panitia, Siti Herawati.
Ruhani menambahkan bahwa setelah istirahat sejenak, kegiatan dilanjutkan dengan sesi kedua pada pukul 10.40 hingga 14.20. Sesi sore ini diawali kembali dengan tadarus untuk memanaskan suasana religius, kemudian dilanjutkan dengan Salat Dzuhur berjamaah tepat waktu, dan ditutup dengan pendalaman materi agama Islam. Dengan jadwal yang padat dan terstruktur ini, diharapkan para siswa dapat merasakan pengalaman Ramadan yang lebih intensif di lingkungan sekolah.
Lebih lanjut, Ruhani Yuli Subhi menekankan bahwa tujuan utama dari rangkaian kegiatan ibadah ini bukan sekadar seremonial belaka. Pihak panitia memiliki visi yang lebih jauh, yakni menciptakan perubahan perilaku yang berkelanjutan pada diri siswa. Menurutnya, inti dari pesantren kilat ini adalah proses ‘penataan hati’ agar nilai-nilai kebaikan yang diajarkan dapat melekat kuat.
“Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menata hati siswa. Jadi, tidak hanya sekadar seremonial, tetapi bisa berlanjut penguatan imannya dalam kehidupan sehari-hari. Kami ingin semua amalan ibadah yang dilakukan selama pesantren ini lahir dari kesadaran dirinya sendiri,” tegas Ruhani.
Ia berharap, setelah mengikuti kegiatan ini, para siswa tidak lagi merasa harus diperintah untuk beribadah, melainkan melakukannya dengan ikhlas karena sudah tertanam dalam jiwa.
“Pendampingan intensif dari para guru selama lima hari ini menjadi kunci untuk mengawal proses pembiasaan tersebut,” jelasnya.
Senada dengan hal itu, Kepala SMPN 22 Depok, Eriyasti, menyampaikan bahwa momentum Ramadan adalah waktu yang tepat untuk merevitalisasi nilai-nilai keimanan dan ketakwaan di kalangan generasi muda. Pihak sekolah sengaja memanfaatkan bulan penuh berkah ini untuk membangun fondasi karakter siswa yang kuat, tidak hanya secara akademis tetapi juga spiritual.
“Momen bulan Ramadan adalah waktu yang tepat untuk kembali menguatkan diri dalam sisi keimanan dan keagamaan. Yang kami ajarkan ke siswa adalah pembiasaan dalam melakukan ibadah-ibadah, yang salah satunya adalah salat,” ungkap Eriyasti.
Kepala sekolah yang akrab disapa Eriyasti ini juga menyoroti pentingnya menumbuhkan kecintaan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Ia menjelaskan bahwa pembiasaan ibadah seperti salat duha dan dzuhur berjamaah, serta tadarus Al-Qur’an yang dilakukan secara konsisten selama pesantren, adalah metode untuk menanamkan rasa cinta itu.
“Cinta kepada Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW adalah pondasi utama yang akan mengarahkan siswa pada pembentukan akhlak mulia, sejalan dengan tema besar kegiatan, yaitu melahirkan generasi qurani,” tuturnya. (*)
