Jabaran.id, Depok – Meski hanya lulusan SMP yang kemudian kerja jadi office boy (OB) di Jakarta dengan gaji UMR, kini di usia 35 tahun Dendi punya 11 cabang Bakso Aci, 3 toko minimarket berkonsep modern beserta Agen BRILink di wilayah Depok. Rahasianya, tidak pernah mau bergantung pada satu income.
Dendi lahir dari keluarga kurang beruntung di Tasikmalaya, Dendi putus sekolah di kelas 3 SMP karena tak sanggup biaya. Setelah mondok sampai 2014, ia merantau ke Jakarta.
“2014 saya ngelamar jadi OB di Jakarta, dibawa paman. Gaji UMR cuma cukup buat kost dan kirim ke ortu,” kenang Dendi.
Tak puas dengan satu pemasukan, ia narik Gojek dari 2015 sampai 2018. Pagi jadi OB, sore sampai jam 11 malam nge-Gojek.
“Bukan terpaksa. Saya nggak bisa fokus sama 1 income. Kalau ada peluang, diambil selagi sehat,” ujarnya.
Hasilnya dalam 3 tahun ia kumpul tabungan Rp130 juta dari full Gojek. Uang itu dipakai nikah 2018 tanpa bantuan orang tua, sisanya jadi DP mobil. Dari motor Gojek ia naik kelas ke Gocar. Cicilan mobil Rp5,150 juta/bulan lunas dari hasil nyetir Sabtu-Minggu.
Pada 2019 ia coba usaha Cireng dan Jus, tapi gagal karena musim hujan. Baru di 2020 ia nemu celah yaitu Bakso Aci.
“Survei banyak yang jualan bakso, tapi market Bakso Aci masih jalan dan profitnya bagus 40 persen,” katanya.
Bumbu ia beli langsung ke Garut karena punya mobil. Modal awal cuma Rp15 juta, semua beli bekas. Sewa kios Rp600 ribu dekat kontrakan. Buka pas Covid, orang lain tumbang, dia malah rame. Opening Rp2-3 juta, bahkan pernah Rp5 juta sehari.
“Nggak sampai 1 bulan modal balik. Bulan ke-3 langsung buka cabang ke-2,” ungkapnya.
Pola yang sama diulang, profit cabang 1 untuk buka cabang 2, dan seterusnya. Semua operasional cabang dipegang istri dan saudara. Hingga 2022, totalnya 11 cabang. Manajemennya disiplin mulai gaji, listrik, karyawan diambil dari gaji pribadi. Profit bisnis dikumpulkan sampai modal balik, baru dipakai ekspansi.
Di 2025, masa Bakso Aci ia anggap “sudah habis viralnya”. Ia mulai cari usaha yang kebutuhan pokok: sembako.
“Tapi kalau fokus sembako aja profitnya kecil. Makanya saya gabungin antara minimarket, jual bensin, aksesoris HP, dan Agen BRILink,” jelasnya.

Ia kenal BRILink justru karena kebutuhan setor tunai usaha bakso. Capek ke bank, akhirnya setor ke Agen BRILink. Dari situ ia pelajari, ada profitnya.
“2020 saya daftar BRILink. Syaratnya harus punya usaha dulu dan punya NIB. 2 minggu ACC, awal Juli mulai operasi. Hari pertama cuma 32 transaksi,” katanya.
Karena transaksi rame, 1 bulan kemudian BRI kasih mesin EDC. Sekarang sudah punya 3 mesin. 2023 ia buka minimarket dan langsung daftarkan jadi Agen BRILink juga. Hasilnya modal balik 2 tahun. Laba cabang 1 dipakai buka cabang 2 akhir 2024. Sehingga pada 2025 buka cabang BRILink ke-3 di Perigi.

Dendi menyebut 1 toko punya 4 income yaitu Minimarket, BRILink, Pom Mini, Aksesoris HP. Omzet admin BRILink saja berkisar Rp700 ribu – Rp800 ribu perhari. Pernah sekali transaksi Rp100 juta, admin Rp500 ribu tanpa nawar.
“Pernah sehari adminnya 1,7 juta, rata-rata Rp700-800 ribu,” ungkapnya.
Biaya operasional 1 toko disini seperti sewa Rp1,5 juta, karyawan Rp2 juta, listrik Rp800 ribu. “Labanya bisa 2 digit,” katanya.
Kuncinya dalam mendapatkan laba besar disini jangan makan laba sebelum modal balik. “Hasilnya jangan diambil dulu. Kalau sewa ruko, gaji karyawan, ya dari gaji saya, bukan dari laba usaha,” tegasnya.
Menurutnya, ada 2 syarat wajib dalam membuka Agen BRILink yaitu lokasi strategis dan modal memadai. “Lokasi harus di pinggir jalan raya, padat penduduk, persimpangan. Jangan di dalam gang. Kalau modal besar tapi lokasi jelek, banyak transaksi ditolak. Begitu juga sebaliknya,” terangnya.
Ia juga main branding dalam menjalankan bisnis agen BRIlink yaitu dengan bikin neon box gede, banner yang nggak umum, ada ciri khas. Soal admin murah, ia tidak ikut. “Agen BRILink perputarannya besar, risikonya juga besar. Saya main di pelayanan,” tegasnya.
Sistem bagi hasil disini admin tarik tunai BRI ke BRI Rp5.000 dibagi dua dengan BRI. Admin luar BRI Rp6.500. Jasa BRILink langsung masuk ke agen. “Ini simbiosis mutualisme. BRI untung triliun dari admin dalam, agen dapat cuan juga,” katanya.
Kini ia aktif konten dengan akun @mauzamart. Aktivitas tokonya dilirik Kantor Pusat BRI. “BRI cuma respon yang aktif. Agen punya PIC masing-masing. Butuh EDC atau support, tinggal ngomong ke Pak Bagus,” tandas Dendi.
Sementara itu, Regional Micro Banking Head, Oloan Susanto Nasution mengatakan, BRI memiliki sekitar 36 ribu Agen BRILink dimana fungsinya menjadi perpanjangan tangan BRI di lapangan.
Disini masyarakat bisa melakukan aktivitas bayar listrik, transfer, tarik tunai lebih dekat dari rumah. Dan tentunya dengan adanya Agen BRILink disini tak hanya memudahkan masyarakat, sekaligus memberikan benefit bagi pemilik Agen BRILink dengan beberapa keuntungan.
“Masyarakat lebih udah bertransaksi, si agen juga bisa mendapatkan pemasukan yang luar biasa jika memang transaksi yang dilakukan juga tinggi,” tutup Oloan.(*)
