Jabaran.id, Jakarta – Di era transaksi digital yang makin masif, Bank BRI memilih jalan klasik tapi efektif yaitu dengan memperbanyak mesin EDC. Strategi “penetrasi alat transaksi” ini kini jadi ujung tombak bank berlogo biru itu untuk menggenjot Dana Pihak Ketiga (DPK) sekaligus memperkuat posisinya sebagai bank utama nasabah.
Temuan ini terpampang jelas dalam presentasi Danantara Indonesia bersama BRI yang ditangkap dalam sebuah forum tertutup.
“Salah satu slide yang jadi sorotan menampilkan data kuat soal performa EDC BRI sepanjang tahun berjalan,” jelas Regional Funding & Retail Transaction Bank Head BRI Regional Jakarta 1, Lulu Nurulita.

Lulu menjelaskan, melihat data, EDC BRI sudah membukukan Total Income Opportunity (TIO) sebesar Rp56,3 triliun. Jumlah Merchant ID (MID) yang aktif mencapai 21,7 ribu. Dari sisi volume transaksi, EDC menyumbang Rp46,6 triliun dengan rata-rata saldo CASA yang terhimpun Rp17 triliun.
Angka itu jauh melampaui kanal lain. Sebagai pembanding, BRImo mencatat volume Rp91 triliun dari 93 juta transaksi, dan QRIS Rp7,1 triliun dari 207 ribu user. Sementara itu, Qlola membukukan volume Rp245 miliar. Artinya, EDC masih menjadi kontributor terbesar secara nilai dari sisi alat transaksi fisik.
“Optimalisasi transaksi melalui penetrasi alat transaksi menjadi strategi utama untuk meningkatkan dana pihak ketiga secara berkelanjutan sekaligus memperkuat posisi BRI sebagai bank utama nasabah,” terangnya.
Jika dibedah per kategori, merchant Food & Beverage (F&B) mendominasi dengan 11.787 unit EDC. Disusul Groceries sebanyak 6.376 unit, Electronics 3.406 unit, dan Health 3.129 unit. Kategori lain seperti Hotel 526 unit, Sport 457 unit, Tour & Travel 331 unit, serta Entertainment dan Fashion masing-masing 290 unit.
Dominasi F&B dan Groceries menandakan fokus BRI menyasar transaksi harian masyarakat. Dari warung modern hingga minimarket, gesekan kartu kini jadi pemandangan umum.
Deretan “Top Merchant” yang terpampang juga menggambarkan segmen premium yang dibidik BRI: mulai dari The Palace, Erafone, Indogrosir, SOGO, Arena, Blibli, JCO, RS St. Carolus, hingga hotel bintang lima Park Hyatt dan Langham.
Penguatan EDC berkorelasi langsung dengan komposisi dana. Rasio CASA BRI tercatat 63%, naik 10,1% secara year-on-year dan 6,7% year-to-date. Sementara Cost of Funds (COF) berada di level 2,44%, turun 0,82% yoy dan 0,34% ytd.
Total DPK BRI sendiri sudah mencapai Rp2.311 triliun, dengan komposisi terbesar dari Giro Rp998 triliun atau 18,32% dan Deposito Rp913 triliun atau 20,62%. Tabungan tercatat Rp400 triliun atau 7,60%.
Dengan lebih dari 21 ribu MID aktif, BRI seolah menanam “jaring dana” di setiap titik transaksi masyarakat. Setiap gesekan di EDC bukan hanya soal fee, tapi juga saldo mengendap yang masuk ke CASA — sumber dana murah yang jadi nyawa perbankan.
“Langkah ini menegaskan satu hal di tengah gempuran dompet digital, mesin EDC masih relevan. Bahkan, ia dijadikan BRI sebagai infrastruktur utama untuk menjaga likuiditas murah dan loyalitas nasabah di level merchant,” ungkapnya.
Apakah strategi memperbanyak EDC ini akan terus jadi andalan BRI saat transaksi tanpa kartu makin naik? Satu hal pasti, untuk sekarang, gesekan masih menghasilkan triliun.

Corporate Secretary PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI), Dhanny, tak hanya gencar menyebarkan EDC semata, BRI juga memiliki program-program dan promo menarik yang membuat BRI terus melangkah maju.
Menurut Dhany selain menjalankan fungsi dan tugas bank himbara yang selalu dan komitmen dukung pemerintah, BRI itu juga banyak promonya dalam rangka memuaskan nasabah.
“Jadi kenapa sih kita bikin promo? Ya memang karena kita harapannya masyarakat Indonesia itu bisa lebih memilih dan preferensinya ke BRI. Kita ingin BRI ini menjadi bank yang dicintai dan disayangi oleh masyarakat yang ada di Indonesia,” tutup Dhanny.(*)
