HomePendidikanCing Ika Kenalkan "Baterai Kasih" di SDN Mekarjaya 29 untuk Generasi dari...

Cing Ika Kenalkan “Baterai Kasih” di SDN Mekarjaya 29 untuk Generasi dari Bullying

Jabaran.id – Bertempat di Aula SDN Mekarjaya 29, Bunda Forum Anak Kota Depok, Siti Barkah Hasanah atau akrab disapa Cing Ika, menjadi pemateri dalam kegiatan parenting. Di tengah maraknya kasus perundungan yang melibatkan anak usia sekolah, diskusi bertajuk “Peran Orang Tua dalam Mendukung Tumbuh Kembang Anak dan Pencegahan Kekerasan” itu menjadi ruang refleksi bagi orang tua untuk menengok kembali pola asuh yang diterapkan di rumah.

Kepala SDN Mekarjaya 29, Reni Kartini, menegaskan bahwa anak-anak merupakan amanah sekaligus generasi penerus bangsa yang membutuhkan perhatian menyeluruh. Menurutnya, dukungan yang diberikan tidak boleh terbatas pada aspek akademik semata.

Cing Ika di SDN Mekarjaya 29 Depok 2

“Anak-anak adalah amanah generasi masa depan bangsa. Perlu ada perhatian lebih baik dari sisi akademik dan juga non akademik,” ujar Reni Kartini.

- Advertisement -

Reni menjelaskan bahwa kegiatan parenting ini diadakan dengan tujuan mempererat sinergi antara orang tua dengan pihak sekolah. Menurutnya, kolaborasi yang kuat sangat krusial untuk memastikan proses tumbuh kembang anak berjalan optimal, sehingga mereka mampu meraih prestasi di masa depan. Ia optimis semua itu bisa dilakukan secara bersama-sama dengan melibatkan seluruh elemen di lingkungan pendidikan.

“Bisa dari sisi sosialnya. Kegiatan parenting diadakan dengan tujuan mempererat sinergi orang tua dengan sekolah, khususnya dalam memberikan perhatian dalam proses tumbuh kembang anak, sehingga bisa meraih prestasi di masa depan siswa. Semua itu bisa dilakukan secara bersama sama dengan semua pihak,” tambahnya .

Mengambil alih sesi inti, Cing Ika langsung menyentil kebiasaan orang tua yang kerap tidak sadar menjadi pemicu munculnya perilaku kekerasan pada anak. Ia menyoroti pentingnya introspeksi diri, terutama dalam hal penggunaan bahasa dan pemenuhan kebutuhan emosional anak. Salah satu poin krusial yang diangkat adalah bahwa setiap anak memiliki cara unik untuk menerima dan mengungkapkan kasih sayang.

“Kenapa bisa ada bullying, tentunya sebagai orang tua harus introspeksi diri, salah satunya adalah bahasa yang harus bahasa kasih sayang anak. Setiap orang termasuk anak memiliki cara berbeda dalam menerima dan mengungkapkan kasih sayang. Orang tua perlu memahami bahasa kasih anak agar pendekatan dan komunikasi lebih tepat,” jelas Cing Ika di hadapan para peserta.

Cing Ika di SDN Mekarjaya 29 Depok 3

Untuk memudahkan orang tua memahami kebutuhan psikologis anak, Cing Ika memperkenalkan konsep “Baterai Kasih” yang ia gagas. Ia mengibaratkan kondisi rasa aman dan nyaman seseorang seperti sebuah baterai yang harus diisi secara rutin oleh orang tua. Jika baterai tersebut dibiarkan kosong, maka anak akan rentan menunjukkan perilaku negatif seperti mudah marah, ngambek, hingga melakukan perundungan.

“Oleh karena itu ada konsep ‘Berkah Kasih’. Baterai kasih menggambarkan kondisi rasa aman dan nyaman seseorang. Baterai perlu diisi secara rutin, jika kosong anak dapat menjadi mudah marah, ngambek, agresif, pelit, melakukan perundungan, atau susah diberikan arahan,” paparnya.

Dalam kesempatan yang sama, Cing Ika turut menjelaskan secara komprehensif mengenai definisi kekerasan terhadap anak. Ia mengingatkan bahwa kekerasan tidak hanya berbentuk fisik, tetapi juga bisa berupa tindakan yang menyebabkan penderitaan psikis atau bahkan penelantaran.

“Kekerasan pada anak adalah segala tindakan yang menyebabkan cedera, penderitaan, atau kerugian fisik, psikis, seksual, maupun penelantaran terhadap anak, baik dilakukan secara sengaja maupun karena kelalaian,” tegasnya.

Istri Walikota Depok itu juga menekankan bahwa praktik kekerasan atau perundungan sering kali terjadi di lingkungan sekolah karena kurangnya pemahaman orang tua tentang pengelolaan emosi. Namun, ia mengingatkan agar orang tua tidak serta-merta menyalahkan anak. Sebaliknya, orang tua wajib disiplin memberikan aturan yang jelas disertai konsekuensi yang mendidik, serta mengimplementasikan lima bahasa kasih sayang yang terdiri dari kata-kata pendukung, waktu berkualitas, sentuhan fisik, pelayanan, dan pemberian hadiah.

“Kekerasan itu bisa terjadi di sekolah, dan sebaiknya tidak menyalahkan anak, tetapi orang tua harus disiplin memberikan aturan yang jelas dengan segala konsekuensinya,” ujarnya mengingatkan.

Mengakhiri sesinya, Cing Ika menegaskan bahwa perlindungan anak bukanlah beban satu pihak saja. Hal ini merupakan tanggung jawab kolektif yang melibatkan orang tua, keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah.

“Perlindungan anak bukan pekerjaan satu orang, ini adalah tanggungjawab bersama, orang tua, keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah,” pungkasnya. (*)

TERBARU

spot_img

POPULER

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here