Jabaran.id, Depok – Siapa sangka, usaha bunga sintetis yang berdebu di etalase toko bisa berubah menjadi 4 gerai Agen BRILink dengan total transaksi miliaran rupiah. Perjalanan itu ditempuh seorang ibu bernama Syarifah di Depok, yang memulai semuanya dari nol, pinjaman Rp20 juta dari BRI, dan minimnya pengetahuan soal dunia BRILink.

Awalnya, ia hanya seorang penjual bunga artifisial. Keinginan membuka workshop di rumah membuatnya mengajukan pinjaman KUR ke BRI sebesar Rp20 juta pada tahun 2020.
Takdir berkata lain. Sang suami yang kala itu bekerja di jasa keuangan memperkenalkannya pada bisnis agen BRILink. “Suami yang ngajarin saya apa itu agen BRILink. Akhirnya modal bunga itu kita bagi dua. Sewa toko kecil, kita bikin agen billing, jualan pulsa, token, voucher data,” ceritanya.
Keraguan sempat muncul. “Aduh, hari ini banyak ATM. Emang mana ada sih orang mau transfer-transfer? Tinggal ke ATM aja,” ujarnya menirukan pikirannya dulu.
Namun pasar berbicara. Target utamanya adalah karyawan proyek dan perantau yang kesulitan ke bank. Ditambah booming-nya pembayaran virtual account dari toko online, membuat loketnya tak pernah sepi. Fokus pada transaksi BRI jadi kuncinya, karena mayoritas masyarakat di sekitar tokonya memang nasabah BRI.
Seiring waktu, usaha bunga terpaksa ia “kalahkan”. Toko kurang memadai, stok berdebu, dan ia tak sanggup membagi waktu antara melayani billing dan pesanan bunga. “Akhirnya saya fokus ke agen BRILink. Sampai sekarang masih ada yang nanya jual bunga nggak, tapi sudah saya tinggalkan,” katanya sambil tertawa.

Hasilnya di luar dugaan. Dari satu toko, kini ia mengelola empat toko. Dua di antaranya menjadi tumpuan utama, dua lainnya sebagai pendukung. Berdasarkan report bulanan BRI, ia kerap nangkring di posisi 3 atau 4 dari ratusan agen di wilayahnya. “Kalau transaksi BRI aja, dalam sebulan hasilnya bagus,” ungkapnya.
Keberhasilan itu ia gunakan untuk menghidupi keluarga, membayar gaji karyawan, biaya sekolah anak, hingga mencicil mobil selama dua tahun terakhir. Saat ini ia juga masih memutar modal tambahan berupa pinjaman BRI Rp50 juta.
Perjalanan tentu tidak selalu mulus. Ia mengaku pernah tertipu, ada karyawan yang memakai modal usaha, hingga kendala sistem transaksi yang masih on progress. “Tapi ya namanya usaha, nggak semua mulus. Harus semangat,” ucapnya.
Tantangan makin berat setelah ia berstatus single parent. “Saya harus fighting. Harus jadi wonder woman untuk keluarga dan usaha saya agar tetap jalan,” tegasnya.
Ia juga menyoroti perubahan sistem dari BRI. Jika dulu agen ditarget dari jumlah transaksi, kini penilaiannya berdasarkan fee yang masuk. Target minimalnya Rp150 ribu perbulan.
“Jadi bisa saja transaksi saya 3.000, tapi peringkatnya kalah sama yang transaksinya 2.000 karena fee-nya lebih besar,” jelasnya.
Persaingan juga makin ketat. Banyak agen non-resmi yang mengaku melayani transaksi BRI dengan biaya admin lebih murah lewat aplikasi lain seperti ShopeePay. Hal itu membuat jumlah transaksinya turun dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Meski begitu, ia tetap setia pada BRI. “Pernah ada bank lain nawarin. Tapi setelah dihitung, BRI tetap paling murah. Namanya usaha, pasti cari untung. Jadi ya saya pilih BRI Link aja,” tutupnya.
BRI sendiri memang melarang agennya bekerja sama dengan jasa transfer bank lain seperti BNI Payment, BTN, atau Mandiri. Sanksi terberatnya berupa teguran.
Sementara itu, Regional Micro Banking Head, Oloan Susanto Nasution mengatakan, BRI memiliki sekitar 36 ribu Agen BRILink dimana fungsinya menjadi perpanjangan tangan BRI di lapangan.
Disini masyarakat bisa melakukan aktivitas bayar listrik, transfer, tarik tunai lebih dekat dari rumah. Dan tentunya dengan adanya Agen BRILink disini tak hanya memudahkan masyarakat, sekaligus memberikan benefit bagi pemilik Agen BRILink dengan beberapa keuntungan.
“Masyarakat lebih udah bertransaksi, si agen juga bisa mendapatkan pemasukan yang luar biasa jika memang transaksi yang dilakukan juga tinggi,” tutup Oloan.(*)
