Jabaran.id – Dalam upaya menjaga kelestarian seni tradisi Sunda di tengah arus modernisasi, Ikatan Budaya Sunda ( IBS ) Kota Depok menggelar pelatihan intensif memainkan alat musik kacapi dan suling. Kegiatan yang mengusung tema sarat makna, ‘Ngajaga Tradisi, Ngawariskeun Harmoni’ (Menjaga Tradisi, Mewarisi Harmoni), ini berlangsung selama dua hari, mulai Senin hingga Selasa, 29-30 Juni 2026, bertempat di Aula Gedung PGRI Kota Depok.
Pelatihan ini diikuti 44 peserta yang merupakan perwakilan dari 11 cabang IBS yang tersebar di seluruh wilayah Kota Depok. Setiap cabang mengirimkan empat orang wakil, dengan komposisi dua orang untuk mempelajari kacapi dan dua orang lainnya fokus pada suling.

Ketua Panitia Pelatihan, Anita Rohani, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan langkah strategis untuk memastikan keberlangsungan seni karawitan Sunda di kalangan anggota. Menurutnya, penguasaan alat musik tradisional bukan hanya soal teknik, melainkan juga tentang pemahaman mendalam akan filosofi yang terkandung di dalamnya.
“Pelatihan ini adalah kelanjutan dari program pemberdayaan yang didukung oleh Dinas Pariwisata dan Budaya (Disporyata) Kota Depok. Sebelumnya, kami telah menerima bantuan hibah berupa perangkat alat musik, yaitu 11 unit kacapi, 22 buah suling, dan satu set perlengkapan sound system. Kehadiran alat-alat ini menjadi pemantik semangat bagi kami untuk segera mengadakan pelatihan massal. Harapannya, setiap cabang IBS di Depok memiliki perwakilan yang benar-benar kompeten, sehingga ketika ada kegiatan kebudayaan, kami tidak kekurangan sumber daya manusia yang bisa memainkan instrumen ini,” ujar Anita.

Lebih lanjut, Anita menjelaskan bahwa pemilihan kacapi dan suling sebagai fokus pelatihan bukan tanpa alasan. Kedua alat musik ini dinilai memiliki peran sentral dalam menyampaikan nuansa rasa dan estetika dalam seni tembang Sunda.
“Kacapi memberikan harmoni dan ritme yang mengalun lembut, sementara suling memberikan warna melodi yang menusuk kalbu. Jika keduanya dimainkan selaras, akan tercipta sebuah harmoni yang tidak hanya indah didengar, tetapi juga menyejukkan jiwa. Kami ingin peserta tidak hanya meniru gerakan, tetapi merasakan getaran musikalitasnya,” tambahnya.
Untuk mengasah keterampilan para peserta, panitia menghadirkan pemateri yang merupakan seniman muda berbakat asal Sunda, Diki Dayu Destian. Diki tidak hanya mengajarkan teknik dasar fingering (penjarian) pada kacapi dan pernapasan pada suling, tetapi juga memperkenalkan ragam wanda (gaya) khas dalam karawitan Sunda.
Seluruh proses latihan yang telah dijalani selama dua hari ini bukanlah tujuan akhir. Anita menegaskan bahwa pelatihan ini adalah tahap awal persiapan menuju puncak penampilan. Seluruh peserta yang telah dibekali kemampuan dasar nantinya akan diorbitkan dalam gelaran akbar budaya bertajuk ‘Malam Parahyangan Depok ke-2’ yang rencananya digelar pada 31 Oktober 2026.

“Acara Malam Parahyangan nanti akan menjadi ajang unjuk kebolehan bagi peserta. Kami ingin menunjukkan bahwa warga Depok, yang notabene adalah kota penyangga Jakarta, tetap memiliki kepedulian dan kecintaan yang tinggi terhadap budaya Sunda. Penampilan pada malam itu nanti akan menjadi semacam konser kecil yang menampilkan kolaborasi antara para peserta pelatihan dan para maestro. Ini adalah bukti bahwa seni tradisi bisa tetap hidup dan dikembangkan di era modern,” terang Anita.
Selain fokus pada penguasaan instrumen, pelatihan ini juga menyisipkan pendidikan nilai-nilai luhur budaya Sunda, seperti silih asah (saling mengasah), silih asih (saling mengasihi), dan silih asuh (saling membimbing). Atmosfer kekeluargaan terlihat hangat sepanjang kegiatan, terlebih saat sesi latihan bersama yang diiringi tembang-tembang klasik Sunda.
“Semoga melalui kegiatan ini, regenerasi seniman tradisi di Kota Depok dapat terus terjaga dan melahirkan generasi baru yang cinta pada budayanya sendiri,” pungkasnya.
Acara pelatihan ini secara resmi dibuka langsung oleh Ketua IBS Kota Depok, Usep Kusnadi, yang turut didampingi oleh Ketua PGRI Kota Depok, Nisar. Kehadiran para tokoh tersebut menambah semangat para peserta untuk terus berkarya dan melestarikan budaya Sunda di tanah kelahirannya masing-masing. (*)
