Jabaran.id, Jakarta – Melakoni sebuah usaha di Jakarta bukanlah hal yang mudah. Hal ini dijalani oleh penjual Sate Barokah Mayestik bernama Haidir. Sejak 2013, ia merintis usaha berjualan sate menggunakan gerobak. Berawal dari pinggiran jalan, masuk ke depan ruko hingga akhirnya mampu menyewa ruko.
Hal ini tentunya tidak berjalan cepat, mulus dan seenak yang dibayangkan. Banyak liku-liku sepanjang 13 tahun berjualan sate. Namun berkat kegigihan dan komunikasi yang baik dengan para pembeli, akhirnya Haidir dipertemukan dengan BRI Mayestik. Sehingga yang tadinya dalam satu hari ia mampu menjual 500 tusuk sate, kini berkah pinjaman dari BRI, dalam sehari penjualan satenya capai 2.000 tusuk.
“Alhamdulillah di 2025 saya putuskan mengambil KUR sebesar Rp200 juta sehingga bisa menyewa ruko dan meningkatkan omzet,” ujar Pria kelahiran 1996 ini.
Haidir menjelaskan, tentunya dengan memutuskan mengupgrade usaha, ia pun dituntut untuk meningkatkan skill. Tak hanya menu sate saja yang disajikan, Sate Barokah Mayestik kini menyuguhkan beragam menu lainnya. Selain sate ayam, ada aneka sate lainnya dan jenis masakan seperti soto, sop, mie ayam dan lain sebagainya. Bahkan saat ini Haidir memiliki 2 karyawan untuk membantu dirinya melayani para pengunjung yang datang.
Sejak mendapat pinjaman dari BRI, Sate Barokah Mayestik ini mampu menghasilkan omzet sebesar Rp8 juta dalam sehari. Terlebih ketika ada penggunaan QRIS dari BRI yang mana memudahkan konsumen dalam membayar dan tentunya juga ini menjadi nilai tambah bagi pemilik usaha karena catatan uang masuk akan lebih tersusun rapi.
“Semenjak pakai QRIS BRI saya jadi lebih mudah dalam membuat catatan keuangan, pembeli juga dimudahkan, cukup scan menggunakan smartphone,” ungkapnya.
Meski baru satu tahun pindah lokasi ke dalam ruko, namun Sate Barokah Mayestik semakin banyak langganannya. Terkadang pembeli yang sudah menjadi langganan sering diberikan bonus lontong. Pelayanan yang kekeluargaan, harga yang ramah dikantong menjadi nilai lebih. Resep bumbu sate yang ia jajakan ini didapat dari ibunya yang terlebih dahulu sudah berjualan.
Kacang untuk membuat bumbu sate menggunakan bahan berkualitas, langsung dari Madura. Sehingga citarasa yang dihasilkan pun otentik terlebih yang meraciknya ibunya sendiri yang juga orang Madura asli. Sedangkan ilmu berjualan sate didapatkan dari bapaknya yang juga memiliki usaha dibidang yang sama di daerah Kebayoran.
“Kedua orang tua saya menjadi inspirasi ketika memutuskan untuk menjalankan usaha sate ini, orangtua saya pun akhirnya bisa membeli rumah yang tadinya cuma lapak kecil tempat mereka berjualan didepan rumah tersebut,” ungkapnya.
Kedepan, Haidir berkeinginan untuk membuka cabang di lokasi lain. Ia berharap BRI bisa membuka kembali kran pinjaman hingga 500 juta untuk pembukaan cabang berikutnya. Dengan begitu selain memiliki cabang yang tersebar, jam operasionalnya pun bisa lebih panjang. Yang tadinya buka mulai pukul 06:00 hingga 21:00, jika tambah karyawan bisa buka sampai 00:00.
“Kalau BRI bisa kasih kesempatan saya memperluas jaringan usaha sate ini, tentunya saya bisa merekrut lebih banyak pekerja,” tegasnya.
Disini BRI tak sekadar memberikan pinjaman saja, namun ia mendapatkan pendampingan dan pelatihan sehingga usahanya bisa meningkat pesat. Pengembangan menu, trik marketing dalam berjualan hingga pembukuan penjualan.
Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengatakan, PT Bank Rakyat Indonesia (Tbk) (BRI) terus memperkuat UMKM sebagai tulung punggung ekonomi nasional. BRI berperan sebagai penyalur utama Kredit Usaha Rakyat (KUR) terbesar di Indonesia dalam mendukung program pemerintah.
Secara konsolidasi, total aset BRI tercatat mencapai Rp2.250 triliun pada akhir Maret 2026, tumbuh 7,2% secara tahunan (year-on-year/yoy). Hal itu ditopang oleh penyaluran kredit yang menunjukkan akselerasi yang solid.
Hingga kuartal I-2026, total kredit BRI mencapai Rp1.562 triliun, tumbuh 13,7% yoy. Dan segmen UMKM menjadi tulang punggung bisnis, dengan total penyaluran mencapai Rp 1.211 triliun. Hal ini menegaskan fokus BRI dalam mendukung sektor riil dan ekonomi kerakyatan.
“Segmen UMKM tetap menjadi pilar utama dalam portfolio pembiayaan BRI,” tutupnya.(*)
