Jabaran.id – SDN Sukatani 4 menyelenggarakan Gelar Karya Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dengan mengangkat tema kewirausahaan. Kegiatan yang berlangsung meriah ini membahas tentang bagaimana dalam bidang budidaya ikan nila dan sayuran organik, sekaligus diisi dengan berbagai penampilan seni siswa.
Kepala SDN Sukatani 4, Eri Widianti, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan implementasi nyata dari kurikulum merdeka.

“Kami ingin menanamkan jiwa kewirausahaan sejak dini melalui kegiatan praktis seperti budidaya ikan nila dan sayuran organik,” ujar Eri saat membuka acara yang dihadiri oleh Pengawas Pembina SDN Sukatani 4, Heti Agustiawati, dan Ketua Komite Sekolah, Deni Arianto ini.
Kegiatan yang berkolaborasi dengan Cha-ching Kurikulum ini tidak hanya fokus pada aspek pembelajaran, tetapi juga menyajikan berbagai hiburan. Siswa-siswi menampilkan pembacaan sajak, penampilan pupuh, serta berbagai pertunjukan seni lainnya yang memeriahkan acara.
Guru SDN Sukatani 4, Cicih Kurnia yang menjadi narasumber utama yang memberikan penjelasan komprehensif tentang teknik budidaya ikan nila dan pembuatan sayuran organik.
“Kami mengajarkan siswa mulai dari proses pemeliharaan ikan, perawatan tanaman, hingga pengolahan hasil menjadi makanan siap santap,” jelas Cicih.

Para peserta dengan antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan, mulai dari praktik membersihkan ikan nila, mengolah kangkong, hingga menyiapkan bahan-bahan tersebut menjadi hidangan yang lezat. Kegiatan ini tidak hanya memberikan pengetahuan teoritis tetapi juga pengalaman langsung dalam mengelola produk kewirausahaan.
Heti Agustiawati, Pengawas Pembina SDN Sukatani 4, menyampaikan apresiasinya atas penyelenggaraan acara ini.
“Ini adalah contoh nyata bagaimana sekolah dapat mengimplementasikan pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna bagi siswa,” ujarnya.
Acara yang berlangsung sukses ini diharapkan dapat menjadi momentum awal bagi pengembangan program kewirausahaan di lingkungan sekolah.
“Kami berencana akan mengembangkan program ini lebih lanjut dengan melibatkan lebih banyak pihak dan mungkin memasarkan produk hasil karya siswa,” tutup Eri Widianti. (*)
