Jabaran.id – Sebanyak 416 siswa baru kelas VII SMPN 3 Depok mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dengan konsep unik yang mengangkat nilai-nilai kearifan lokal Sunda. Kegiatan bertema “RAMAH” (Religius, Aktif, Mandiri, Adaptif, dan Humanis) ini digelar selama lima hari untuk membekali siswa tidak hanya dengan pengetahuan akademik, tetapi juga pembentukan karakter berbasis filosofi Sunda.
Kepala SMPN 3 Depok, Ety Kuswandarini, menjelaskan bahwa tema RAMAH terinspirasi dari nilai-nilai luhur masyarakat Sunda. Melalui pendekatan ini, sekolah berharap dapat menciptakan lingkungan belajar yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga membentuk kepribadian siswa secara holistik.

“Kami ingin mewujudkan siswa yang Cageur (sehat), Bageur (baik), Bener (benar), Singer (mawas diri), dan Pinter (cerdas). Ini adalah fondasi karakter yang kami tanamkan sejak hari pertama,” ujarnya.
Ketua Panitia MPLS, Sugiarti, memaparkan bahwa kegiatan ini melibatkan berbagai pihak eksternal dan internal. Guru-guru SMPN 3 Depok juga memberikan materi seputar wawasan wiyata mandala, pengenalan kurikulum, literasi digital, dan kepramukaan.
“Kami bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kota Depok untuk memberikan pemahaman tentang pola hidup bersih dan sehat, serta BNN yang menyampaikan bahaya penyalahgunaan narkoba,” jelasnya.
Salah satu tantangan terbesar bagi siswa kelas VII adalah adaptasi terhadap sistem pembelajaran baru. Untuk itu, sekolah menyisipkan sesi khusus yang membantu siswa memahami dinamika belajar di jenjang yang lebih tinggi, termasuk pengenalan ekstrakurikuler sebagai wadah pengembangan minat dan bakat.
“Di SD, siswa hanya berinteraksi dengan satu guru kelas, sedangkan di SMP mereka akan bertemu dengan 11 guru mata pelajaran. MPLS menjadi momen penting untuk mempersiapkan mereka menghadapi perubahan ini,” tambah Sugiarti.
Ety Kuswandarini menegaskan bahwa MPLS RAMAH bukan sekadar kegiatan seremonial. Dengan konsep yang menyeluruh, SMPN 3 Depok berkomitmen menciptakan lulusan yang siap menghadapi tantangan masa depan tanpa kehilangan jati diri sebagai bagian dari masyarakat Sunda yang modern dan berdaya saing.
“Ini adalah langkah awal membentuk generasi yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga berkarakter kuat dan berakar pada nilai-nilai luhur budaya,” pungkasnya. (*)
