Jabaran.id – Menjawab tantangan pendidikan di era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), Yayasan Mandiri Tunas Global Depok menggelar pelatihan mendalam bagi para guru TK, SD, dan SMP Nasional Plus (NP) Tunas Global. Pelatihan yang digelar secara internal ini digagas dan dipimpin langsung oleh Dewan Pembina Yayasan, Eppy S. Rahman, yang mengusung konsep pendidikan berbasis penciptaan makna dan pertanyaan mendalam, mengacu pada pemikiran filsuf pendidikan Neil Postman.
Dalam paparannya, Eppy S. Rahman menekankan pergeseran paradigma dari sekadar mengajar menjadi mempertanyakan hakikat ilmu pengetahuan. Ia mengutip langsung konsep Postman, ‘Pendidikan bukan hanya sekedar mengajar apa yang ada tetapi justru harus juga mempertanyakan, kenapa itu terjadi’.

Konsep filosofis ini, menurut Eppy, menjadi krusial terutama ketika guru-guru berhadapan dengan kemajuan teknologi seperti AI dan komputer.
“Sekarang ini guru-guru berkaitan dengan AI, tentunya berkaitan dengan komputer dengan segala sistemnya. Dengan konsep Neil Postman, maka akan muncul pertanyaan mendasar, kenapa komputer itu ada, bagaimana proses, dan bagaimana menggunakannya, sampai pada apa dampak dari menggunakan komputer,” jelas Eppy, memberikan contoh konkret penerapan teori tersebut dalam kurikulum modern.
Eppy lebih lanjut memaparkan bahwa pengetahuan harus dilihat dalam kerangka tiga dimensi yang saling terhubung: sebab-akibat (sebelum/alasan), realitas (sekarang), dan tujuan (nanti). Pendekatan ini, ia yakini, akan melahirkan manusia-manusia pembelajar sejati.
“Manusia sejatinya adalah penjelajah makna. Mereka bertahan hidup karena dibekali kemampuan memaknai dunia dan lalu beradaptasi. Lewat pertanyaan kecil, pengamatan tajam, analisa, dan diskusi sederhana untuk menemukan jawaban demi jawaban,” urainya.
Dalam visinya, Eppy menempatkan “narasi” sebagai jantung dari proses pendidikan. Ia mendefinisikan narasi bukan sekadar cerita, tetapi sebagai kerangka nilai yang membentuk pemahaman.
“Narasi adalah kinerja bahasa dan pikiran tentang sebuah penilaian. Narasi juga tentang benar dan salah, tentang baik buruknya perasaan, tentang penting atau tidaknya sesuatu,” tandasnya.
Ia menegaskan bahwa nilai-nilai moral dan kebaikan berawal dari narasi atau ‘mitos’ yang kemudian harus dibiasakan dan dibuktikan hingga akhirnya mengkristal menjadi sebuah ideologi yang dipegang teguh.
“Tanpa narasi kita sulit menemukan makna, tanpa makna manusia belajar tanpa ada tujuan. Tanpa tujuan hidup manusia tidak akan Bahagia, karena dia terjebak tidak kemana-mana seperti di dalam rumah tahanan,” tegas Eppy
“Sekolah Tunas global adalah rumah singgah para penjelajah kehidupan. Pendidikannya adalah tentang narasi kebenaran dan tanggungjawab, bukan sebatas narasi materialistis/ekonomi,” katanya.
Pernyataan ini menjadi penegas bahwa Pendidikan di Sekolah Nasional Plus Tunas Global tidak hanya berfokus pada pencapaian akademis dan materi semata, tetapi berkomitmen untuk membentuk generasi yang mampu mengeksplorasi makna hidup, berpikir kritis, dan bertanggung jawab dalam menghadapi kompleksitas dunia, termasuk di dalamnya revolusi teknologi AI yang tak terelakkan. (*)
